Skip to main content
Proses Rekrutmen

3 Pertanyaan yang Tidak Boleh Diajukan Dalam Wawancara Kerja

Dalam sesi wawancara kerja, perekrut atau hiring manager (manajer atau kerap dipanggil dengan sebutan user) akan memberikan kesempatan kepada kandidat untuk bertanya. Kandidat dapat tentang peran yan…

K

KyariGo

Terbit 4 min baca
KyariGo pertanyaan yang tidak boleh diajukan

Dalam sesi wawancara kerja, perekrut atau hiring manager (manajer atau kerap dipanggil dengan sebutan user) akan memberikan kesempatan kepada kandidat untuk bertanya. Kandidat dapat tentang peran yang dilamar atau budaya perusahaan, tetapi ada beberapa pertanyaan yang tidak boleh diajukan dalam wawancara. Apa saja pertanyaannya?

Pertanyaan yang Bisa Diajukan Kepada Pewawancara

Wawancara kerja menjadi salah satu faktor penentu pemilihan kandidat berpotensi untuk melanjutkan proses rekrutmen selanjutnya. Sesi ini akan berjalan dengan skill test, psychological test, background checking.

Biasanya, sesi wawancara terbagi menjadi dua atau tiga, tergantung perusahaan. Wawancara pertama adalah pertemuan antara perekrut atau HR dengan kandidat. Ia bertugas memverifikasi CV terhadap pernyataan kandidat. Wawancara kedua akan mempertemukan manajer, perekrut, dan kandidat yang akan menggali lebih dalam tentang pengalaman dan keterampilan kerja.

Pada akhir wawancara, mereka akan menyediakan waktu kepada kandidat untuk bertanya kepada mereka. Sebaiknya, Anda mengajukan pertanyaan kepada mereka, karena ini mengindikasikan:

  1. Anda tertarik dengan pekerjaan tersebut dan siap berkontribusi di dalamnya
  2. Anda berminat untuk bergabung dengan perusahaan, sehingga meluangkan waktu untuk mempelajari melalui laman perusahaan

Untuk menyiapkan pertanyaan, Anda perlu menyiapkan beberapa hal, yaitu:

  • Mempelajari perusahaan di laman dan media sosial, melihat produk atau layanannya, serta baca aksi korporasi di media daring
  • Membaca kembali dan pelajari job description peran yang dibutuhkan
  • Catat pertanyaan yang berkaitan dengan kedua hal di atas
  • Berlatih tanya jawab dengan sahabat atau keluarga agar lebih percaya diri

Contoh pertanyaan yang dapat diajukan kepada pewawancara:

1. Apakah peran ini baru atau menambah anggota tim baru?

Pertanyaan ini untuk mengetahui langkah korporasi sekaligus budaya kerja perusahaan. Jika ini adalah peran baru dan/atau penambahan karyawan, maka perusahaan sedang melebarkan sayap bisnisnya.

Bila peran lama dan mencari pengganti, tanyakanlah apa alasan karyawan lama mengundurkan diri atau mendapatkan promosi. Cek di laman pencari kerja, berapa kali perusahaan mengunggah lowongan kerja yang sama dalam satu tahun. Jika sering, ada kemungkinan tingkat turnover tinggi di posisi tersebut.

2. Apa saja keterampilan utama untuk posisi ini?

Pertanyaan ini untuk lebih memahami keterampilan dan kompetensi yang sering digunakan oleh peran tersebut, dukungan alat kerja, serta peningkatan keterampilan melalui pelatihan. Tanyakan juga bagaimana cara kerja pemimpin dan anggota timnya dan cara komunikasi antartim, sehingga Anda bisa menilai kecocok gaya kerja diri sendiri dengan perusahaan.

3. Siapa saja yang berada di tim ini?

Tanyakan siapa saja yang akan bekerja dengan Anda di tim. Dengan begitu, Anda mengetahui harus mengirim laporan pekerjaan ke atasan, siapa yang mengevaluasi kinerja, serta rekan kerja setim. Bila pewawancara menyebutkan nama-nama tersebut, ingatlah, lalu cek nama mereka di LinkedIn agar mempunyai gambaran kerja.

Baca: Perkenalan Diri dalam Bahasa Jepang dan Contohnya di Sesi Wawancara (membuka tab baru)

3 Pertanyaan yang Tidak Boleh Diajukan Dalam Wawancara Kerja

Anda dapat mengajukan pertanyaan kepada pewawancara, selama pertanyaan tersebut tentang tanggung jawab pekerjaan maupun perusahaan. Meski demikian ada beberapa pertanyaan–yang bisa jadi sama–tetapi Anda menggali hal itu lebih dalam, sehingga pewawancara enggan menjawabnya. Jadi, apa saja pertanyaan yang tidak boleh diajukan dalam wawancara?

1. Terlalu dini menanyakan tentang kompensasi

Pewawancara tidak melarang kandidat membicarakan tentang gaji dan tunjangan. Jika ini adalah wawancara pertama, mereka belum membicarakannya, di lowongan pekerjaan (loker) telah tertera tentang kisaran gaji, dan Anda antusias bertanya tentang gaji, tunjangan, bonus, serta mekanismenya, maka mereka akan menganggap Anda tidak memahami job description di loker.

Pembahasan tersebut juga dianggap terlalu dini, mengingat perusahaan masih menjalankan proses rekrutmen di tahap awal. Sebaiknya, ajukan pertanyaan tentang kompensasi dan benefits saat Anda sudah berada pada wawancara kedua atau HR menyatakan verbal offer. Bahkan Anda dapat melakukan negosiasi saat HR memberikan offering letter tentang kompensasi dan benefits.

2. Terlalu banyak pertanyaan tentang lembur

Salahkah bertanya tentang lembur? Tentu saja tidak, terlebih korporasi Jepang memiliki stereotipe tentang lembur. Bila Anda banyak bertanya tentang mekanisme dan pembayaran lembur, hal ini dapat membuat pewawancara merasa tidak nyaman, Anda dianggap tidak bisa bekerja lembur.

Di perusahaan mana pun, terkadang, lembur akan diperlukan dan tetap dibayar berdasarkan regulasi ketenagakerjaan. Sebelum hari H, sebaiknya Anda Dengan menelusuri ulasan tentang perusahaan tersebut secara daring, sehingga Anda dapat menilai apakah mereka bekerja dengan sangat efisien atau tidak serta budaya kerja di sana.

3. Tidak menguasai etika dunia profesional

Sebagai kandidat Japanese speaker, Anda wajib menguasai etika dalam bahasa Jepang, termasuk ketika dalam sesi wawancara kerja. Ini ialah cara Anda menampilkan diri sehingga memberikan kesan pertama yang baik kepada pewawancara. Jika Anda tidak menunjukkan tata krama ala Jepang, mereka akan menilai Anda tidak cocok bekerja sebagai Japanese speaker di perusahaan mereka.

Bagaimanapun, perusahaan Jepang ingin mempekerjakan seseorang yang tidak hanya sesuai dengan deskripsi pekerjaan, juga akan berkembang dengan baik bersama mereka dari waktu ke waktu. Jadi, luangkan waktu untuk menguasai etika bisnis Jepang dalam dunia profesional guna melancarkan karier Anda.

Apa jadinya jika salah mengucapkan kata atau kalimat saat bertanya kepada pewawancara asal Jepang?

Jika Anda menyadari kesalahan Anda, segera minta maaf dan mengulangi pertanyaan. Manajer Jepang akan memahami bahwa bahasa ibu Anda bukan Jepang, melainkan Indonesia dan bahasa daerah lain, sehingga ia memiliki toleransi terhadap kesalahan pengucapan.

Untuk menghindari kesalahan, Anda harus berfokus dalam persiapan wawancara kerja. Tiga hal penting untuk mempermudah Anda adalah:

  • Mempelajari etika bisnis perusahaan Jepang
  • Meriset tentang peran dan perusahaan
  • Berlatih wawancara dengan teman atau saudara

Cek laman KyariGo (membuka tab baru)untuk mengetahui seluk-beluk wawancara kerja lainnya.

Artikel Terkait