Skip to main content
Proses Rekrutmen

5 Pertanyaan yang Bisa Diajukan Kepada Manajer Jepang dalam Wawancara Kerja

Apa saja pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer? Apa harus bertanya kepada manajer? Bagaimana jika tidak bertanya atau bertanya di luar konteks rekrutmen? Pertanyaan tersebut kerap dipikirkan o…

K

KyariGo

Terbit 5 min baca
kyarigo pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer

Apa saja pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer? Apa harus bertanya kepada manajer? Bagaimana jika tidak bertanya atau bertanya di luar konteks rekrutmen?

Pertanyaan tersebut kerap dipikirkan oleh pencari kerja, tak terkecuali kandidat Japanese speaker yang baru saja lulus dari perguruan tinggi atau baru saja memperoleh sertifikat JLPT. Berada pada sesi wawancara kerja dapat membuat Anda senang sekaligus cemas, karena Anda akan mempresentasikan kualifikasi di depan manajer serta perekrut.

Jadi, sudahkah Anda memikirkan pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer? Jika belum, cek pembahasan di bawah ini.

3 Hal yang Wajib Dipersiapkan oleh Kandidat Sebelum Wawancara Kerja

Dalam proses rekrutmen, kandidat akan menghadapi dua sesi wawancara kerja. Wawancara pertama akan dilakukan oleh HR atau perekrut.

Biasanya, mereka akan menghubungi kandidat melalui telepon atau video telekonferensi seperti Zoom atau Google Meet. Perekrut akan bertanya hal-hal dasar yang tercantum dalam CV, lalu menghubungkannya dengan kualifikasi pada job description.

Setelah wawancara pertama, ia akan menilai keseluruhan jawaban kandidat sambil melakukan beberapa verifikasi tentang pengalaman kerja, pendidikan, dan hasil kerja atau portofolio. Ia juga akan memperlihatkan hasil wawancara tersebut dengan manajer yang akan bertindak sebagai hiring manager atau dikenal juga dengan sebutan user.

Jika Anda dinyatakan lolos, perekrut akan menghubungi Anda untuk melakukan wawancara kedua dengan manajer. Biasanya, sesi ini mengharuskan Anda datang ke perusahaan mereka untuk bertemu langsung dengan manajer. Ia akan menilai bagaimana Anda akan mengeksekusi pekerjaan dan bagaimana menyatu dengan tim Jepang serta staf lokal.

Berikut tiga hal yang harus Anda persiapkan sebelum menghadapi sesi wawancara kerja:

1. Pahami budaya kerja

Hal pertama yang wajib Anda siapkan adalah memahami budaya kerja Jepang, terutama etika bisnis, yaitu:

  • Ketepatan waktu: Hadirlah 10-15 menit lebih awal jika wawancara tatap muka atau masuk ke ruang virtual lima menit sebelum jadwal dimulai jika wawancara secara daring
  • Salam pembuka dan penutup: Ketuk pintu tiga kali, lalu ucapkan, “Shitsurei shimasu” atau “Permisi,” sebelum masuk dan duduk setelah dipersilakan, saat wawancara berakhir, berdirilah atau bungkukkan badan (jika wawancara secara daring), sambil mengucapkan “Honjitsu wa ojikan wo itadaki, makoto ni arigatou gozaimasu” atau “Terima kasih banyak atas waktu yang telah Anda luangkan hari ini.”

2. Gunakan bahasa formal

Manajer Jepang akan mengevaluasi apakah Anda mampu menempatkan diri secara profesional di depan klien atau manajemen puncak. Jadi, sebaiknya Anda tidak menggunakan bahasa kasual. Bila Anda mampu menggunakan keigo, itu menjadi nilai plus. Jika belum lancar, gunakan bahasa Jepang ragam formal.

3. Riset profil perusahaan

Selain itu, Anda perlu meriset tentang profil perusahaan, mulai dari tujuan pendirian, visi dan misi, nilai-nilai, budaya dan filosofi, hingga produk atau layanan mereka. Informasi ini dapat Anda kaitkan dengan jawaban ketika menghadapi pertanyaan manajer. Bahkan Anda bisa menyiapkan pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer.

5 Strategi Membuat Pertanyaan yang Bisa Diajukan Kepada Manajer Jepang

Wawancara kerja yang dipimpin langsung oleh manajer Jepang dapat memegang bobot penilaian tertinggi dalam menentukan apakah Anda akan menerima surat penawaran kerja atau tidak.

Ia tak hanya menilai Anda bisa menjawab pertanyaan atau tidak, juga mengevaluasi motivasi dan inisiasi dari Anda. Ketika ia bertanya tentang, “Nanika shitsumon ga arimasu ka?” dan Anda hanya menggelengkan kepala atau menjawab, “Iie, kekkou desu,” kondisi ini memperlihatkan Anda kurang minat, motivasi, dan inisiatif terhadap posisi dan/atau perusahaan.

Untuk mengajukan pertanyaan kepada manajer Jepang, Anda harus menyusun kalimat yang berorientasi terhadap antusiasme, kontribusi, serta kesiapan beradaptasi dengan budaya kerja mereka. Di bawah ini terdapat strategi membuat pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer Jepang sebagai referensi Anda dalam menghadapi wawancara kerja:

1. Ekspektasi dan kontribusi kerja

Salah satu pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer adalah tentang ekspektasi dan kontribusi kerja. Contoh:

Moshi watashi ga kono shoku ni saiyō sa reta baai, saisho no 3 ~ 6-kagetsu-kan de dono yōna gyōseki ya seika o kitai sa remasu ka?”

(Jika saya diterima untuk mengisi posisi ini, performa atau pencapaian seperti apa yang Bapak harapkan dapat saya tunjukkan dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan pertama?)

Anata no chīmu ni oite, heikin-tekina seiseki no hito to yūshūna seiseki no hito o wakeru jūyōna tokuchō ya shishitsu wa nandesu ka?”

(Karakteristik atau kualitas utama seperti apa yang membedakan antara staf yang berkinerja rata-rata dengan staf yang berkinerja luar biasa di dalam tim Anda?)

2. Budaya kerja

Anda dapat bertanya kepada manajer Jepang tentang budaya kerja untuk mendapatkan gambaran bagaimana bekerja di perusahaan tersebut. Contoh:

Manējā kara mite, Indonesia-jin no sutaffu ga kono busho no Shigoto no shikata ni nareru made ni, mottomo kurō suru ten wa dono yōna ten desu ka?”

(Menurut pandangan Anda, apa tantangan terbesar yang biasanya dihadapi oleh karyawan lokal Indonesia saat pertama kali beradaptasi dengan budaya kerja di divisi ini?)

3. Dinamika tim

Pertanyaan tentang dinamika tim menunjukkan bahwa Anda ingin membangun hubungan kerja yang harmonis dengan semua karyawan, baik mereka dari Indonesia maupun Jepang. Misalnya:

Shigoto no komyunikēshon ni oite, manējā ga mottomo jūshi sarete iru koto wa nan desu ka?”

(Terkait dengan komunikasi internal, metode atau gaya komunikasi seperti apa yang paling Bapak hargai dari seorang bawahan dalam menjalankan tugas sehari-hari?)

4. Strategi bisnis

Pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer tentang strategi bisnis. Ini membuktikan bahwa Anda tidak hanya memikirkan tugas inti, juga berpikir strategis seperti karyawan berpotensi. Misalnya:

Nyūsu de, kono kaisha ga (shinseihin, sābisu, matawa purojekuto-mei o agete kudasai) no kakudai ni chūryoku shite iru to yomimashita. Kono bumon wa, seihin matawa sābisu no chōki senryaku no seikō ni dono yō ni kōken suru nodeshou ka?”

(Saya membaca berita bahwa perusahaan ini sedang berfokus pada ekspansi (sebutkan produk, layanan, atau proyek baru mereka). Bagaimana peran divisi ini untuk menyukseskan strategi jangka panjang produk atau layanan tersebut?)

Saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas, lakukan pengamatan terhadap reaksi dan jawaban yang diberikan oleh manajer Jepang. Dengarkan kalimat manajer secara saksama. Bahkan Anda dapat menganggukkan kepala dan catat poin pentingnya. Bila manajer menekankan kecepatan pelaporan dan akuntabilitas kerja. Anda dapat meresponsnya bahwa Anda telah terbiasa dengan ritme kerja horenso.

Poin yang perlu dipahami adalah mengajukan pertanyaan kepada manajer saat wawancara kerja bukan hanya dilakukan oleh kandidat Japanese speaker, tetapi semua kandidat terlepas dari peran yang Anda lamar.

Sesi wawancara kerja dengan manajer Jepang bukan sekadar komunikasi satu arah, melainkan ruang diskusi profesional yang setara. Ketika Anda diberikan kesempatan untuk bertanya, manfaatkan momen tersebut untuk membedakan diri Anda dari kandidat Japanese speaker lainnya.

Persiapkan daftar pertanyaan yang bisa diajukan kepada manajer dengan sesuaikan dengan bidang industri perusahaan tersebut. Untuk melihat wawasan lain tentang wawancara kerja, cek laman ini (membuka tab baru).

Artikel Terkait