5 Gaya Komunikasi Bisnis ala Jepang yang Harus Dipelajari Sebelum Interview
Bekerja di bawah naungan perusahaan dari Negeri Matahari Terbit, Anda perlu mempelajari gaya komunikasi bisnis ala jepang. Terlebih, jika saat ini sedang mencari peluang baru bekerja di perusahaan Je…
KyariGo

Bekerja di bawah naungan perusahaan dari Negeri Matahari Terbit, Anda perlu mempelajari gaya komunikasi bisnis ala jepang. Terlebih, jika saat ini sedang mencari peluang baru bekerja di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, Anda wajib menguasainya agar terlihat menonjol dari kandidat lain.
Mahir berbahasa Jepang secara linguistik saja tidaklah cukup. Memahami gaya komunikasi bisnis bukan sekadar tentang apa yang dikatakan, tetapi bagaimana dan kapan hal itu disampaikan. Mari simak penjelasan di bawah ini.
Karakteristik Berkomunikasi Bisnis di Lingkungan Kerja
Bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk memasuki ekosistem bisnis Jepang, memahami konsep komunikasi adalah poin krusial. Pasalnya, komunikasi di lingkungan kerja Jepang sangat dipengaruhi oleh budaya high-context.
Dengan kata lain, banyak informasi yang tersampaikan melalui konteks, bahasa tubuh, dan pemahaman bersama tanpa perlu diucapkan secara eksplisit.untuk memahami berkomunikasi bisnis ada Jepang, berikut ini karakteristik yang perlu Anda kenali:
1. Konsep tatemae dan honne
Ini adalah fondasi komunikasi Jepang. Tatemae merupakan wajah publik atau apa yang seharusnya dikatakan oleh seseorang untuk menjaga harmoni (wa). Honne ialah keinginan atau pendapat pribadi yang sebenarnya. Dalam wawancara kerja, sangat penting untuk tetap berada di koridor tatemae yang profesional, tetapi tetap menunjukkan ketulusan.
2. Kuuki wo yomu
Istilah ini merujuk pada kemampuan untuk merasakan suasana atau situasi tanpa diberi tahu secara lisan. Kandidat yang dianggap memiliki komunikasi yang baik di mata perusahaan Jepang adalah mereka yang sensitif terhadap isyarat nonverbal pewawancara, seperti jeda bicara atau perubahan ekspresi wajah.
3. Paham hierarki
Komunikasi Jepang selalu mempertimbangkan posisi teman bicara. Penggunaan bahasa harus menyesuaikan apakah Anda berbicara kepada atasan, rekan kerja, atau klien. Ketidakmampuan mengetahui hierarki ini sering dianggap sebagai kurang sopan santun.
5 Gaya Komunikasi Bisnis ala Jepang yang Harus Dipelajari oleh Kandidat Japanese Speaker Sebelum Wawancara Kerja
Sebelum melangkah ke ruang wawancara, kandidat Japanese speaker wajib menguasai beberapa gaya komunikasi bisnis ala Jepang.
1. Penggunaan keigo
Bagi kandidat Japanese speaker, penguasaan keigo menjadi indikator profesionalisme. Jenis keigo yaitu:
- Sonkeigo: Digunakan untuk menghormati pewawancara
- Kenjougo: Digunakan untuk merendahkan diri sendiri demi menghormati teman bicara
- Teineigo: Bentuk sopan standar dari desu atau masu
Bila Anda kurang menguasai keigo, manajer atau rekan kerja dari Jepang akan memahaminya. Keigo memang penting dalam dunia kerja, tetapi jangan sampai hal tersebut menghambat karier Anda untuk bekerja di perusahaan Jepang. Keterampilan berbahasa ini bisa dilatih saat Anda bekerja, yang penting pemilihan kalimat yang digunakan bukan termasuk kata-kata kasual.
2. Isshin-denshin
Ini adalah konsep komunikasi nonverbal yang perlu diperhatikan oleh kandidat, karena menciptakan persepsi dari dan oleh pewawancara. Contoh dari praktik isshin-deshin:
- Memastikan kontak mata terjaga tetapi tidak menatap terlalu tajam yang bisa dianggap menantang
- Menjaga postur tubuh tegak dan anggukan kepala tepat waktu untuk menunjukkan bahwa Anda mendengarkan dengan seksama
3. Metode PREP
Dalam komunikasi bisnis Jepang, kejelasan dan logika sangat dihargai, maka Anda perlu menggunakan metode PREP (point, reason, example, point) untuk menjawab pertanyaan interview sehingga pewawancara memahami maksud Anda. Misalnya:
- Point: Menyampaikan topik pembahasan di kalimat awal
- Reason: Mengutarakan alasan di balik pendapat tersebut
- Example: Memberikan bukti atau contoh yang telah dilakukan
- Point: Menegaskan kembali kesimpulan dari pembahasan
4. Hou-ren-sou
Ya, ini adalah prinsip kerja, tetapi Anda bisa menunjukkan pemahaman tersebut saat menjawab pertanyaan interview tentang gaya kerja. Houkoku, renraku, soudan atau hou-ren-sou atau horenso menjadi budaya melapor, menghubungi, dan berkonsultasi secara rutin. Ketika Anda menyebutkan horenso, ada kemungkinan pewawancara akan menghargai Anda karena telah memahami gaya mereka bekerja.
5. Komunikasi nonverbal
Selain komunikasi verbal, ada pula komunikasi nonverbal yang menunjukkan pemahaman Anda tentang percakapan di lingkungan kerja. Komunikasi nonverbal akan memperlihatkan gerak tubuh dan suara. Penjelasannya adalah:
- Ojigi: Membungkuk dengan sudut yang tepat, sekitar 30-45 derajat untuk perkenalan formal, tetapi hindari membungkuk sambil terus menatap mata pewawancara karena Anda akan dianggap membungkuk “ular” yang memiliki konotasi kurang baik
- Kyoushou: Ini bentuk komunikasi kesopanan, di mana Anda tidak memotong pembicaraan pewawancara, dan jeda atau keheningan singkat adalah tanda bahwa seseorang sedang berpikir secara mendalam, bukan tanda komunikasi macet
- Meishi koukan: Jika diperlukan ada pertukaran kartu nama, Anda dapat melakukannya dengan kedua tangan dan jangan pernah menutupi logo atau nama di kartu tersebut dengan ibu jari Anda
4 Poin yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Wawancara Kerja
Ada beberapa pantangan ketika Anda sedang melakukan wawancara kerja. Sebaiknya, Anda memahaminya sebelum hari H dan selalu menyadari apa yang sedang dikatakan kepada pewawancara.
1. Jawaban pendek
Sebisa mungkin, Anda tidak menjawab dengan kalimat pendek dan langsung, seperti, “Saya tidak tahu” atau “Tidak ada.” Meskipun Anda mengatakan hal jujur, kalimat itu terdengar sangat kaku, sehingga lebih baik menggunakan kalimat panjang, “Benkyou busoku de moushiwake gozaimasen ga…” atau “Mohon maaf karena saya kurang memahaminya, tetapi ....”
Hindari pula menggunakan kata mutlak karena dianggap terlalu agresif dan kurang memiliki kerendahhatian. Anda dapat mengatakan dengan kalimat lebih halus, seperti “Doryoku itashimasu” atau “Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
2. Mengeluhkan perusahaan sebelumnya
Jangan pernah mengatakan keburukan dari rekan kerja dan manajer serta mengatakan hal negatif tentang perusahaan sebelumnya. Di lanskap professional ala Jepang, loyalitas dan menjaga nama baik adalah segalanya. Jadi, mengeluh tentang masa lalu akan menandakan bahwa Anda berpotensi melakukan hal yang sama pada perusahaan mereka ke depannya.
3. Terlalu sering menggunakan “watashi”
Secara tata bahasa, watashi adalah kata ganti yang benar, tetapi terlalu sering mengulanginya akan terdengar narsis. Dalam konteks profesional, subjek sering kali dihilangkan atau diganti dengan “watakushi” untuk kesan yang lebih formal.
4. Frasa terlalu kasual
Hindari jargon, slang, atau akhiran kalimat yang kasual, karena Anda sedang menjalani wawancara kerja, bukan berbicara dengan teman. Jadi, pastikan setiap kalimat diakhiri dengan bentuk yang sangat sopan dan jangan mengatakan “un” atau ya versi santai, selalu gunakan “hai.”
Menguasai gaya komunikasi bisnis ala Jepang memerlukan waktu, terutama Anda yang bukan dari penutur asli. Ini adalah perjalanan mengasah keterampilan berbahasa sekaligus memahami nilai harmoni dan kerendahhatian budaya Jepang.
Bagi kandidat Japanese speaker yang sedang mencari peluang baru, perusahaan Jepang yang ada di Indonesia tidak hanya mencari orang yang pintar, juga merekrut orang yang dapat diajak bekerja sama dan memahami konteks bisnis.
Tunjukkanlah bahwa Anda memahami gaya komunikasi mereka, sehingga pintu karier akan terbuka lebar. Cek di laman ini (membuka tab baru) untuk melihat lowongan kerja yang membutuhkan Japanese speaker.


