Skip to main content
Panduan Karier

Panduan Karier: Cara Menjadi Freelance Interpreter Jepang dan Mendapatkan Klien

Di era yang menawarkan berbagai macam model kerja, seseorang tak harus menjadi karyawan dan bekerja di kantor selama lima atau enam hari. Anda pun bisa bekerja lepas atau freelance, yang tak mengharu…

K

KyariGo

Terbit 7 min baca
KyariGo Cara menjadi freelance interpreter Jepang

Di era yang menawarkan berbagai macam model kerja, seseorang tak harus menjadi karyawan dan bekerja di kantor selama lima atau enam hari. Anda pun bisa bekerja lepas atau freelance, yang tak mengharuskan berangkat setiap pagi dan pulang malam. Kini, hampir semua peran bisa dijadikan pekerjaan freelance, tak terkecuali interpreter yang mahir berbahasa Jepang.

Bagaimana cara menjadi freelance interpreter Jepang dan mendapatkan klien? Apakah harus menjadi interpreter in-house atau freelance? Model peran yang mana yang cocok? Mari ikuti pembahasan di bawah ini.

Apa Itu Interpreter?

Sebelum membahas tentang cara menjadi freelance interpreter Jepang dan mendapatkan klien, sangat penting untuk memahami perbedaan mendasar antara translator (penerjemah tulisan) dan interpreter (penerjemah lisan).

Seorang translator akan bekerja dengan teks tertulis dan memiliki waktu untuk membuka kamus atau menyunting kalimat.

Sedikit berbeda dengan interpreter, ia akan bekerja secara langsung di lapangan untuk menjembatani komunikasi lisan antara dua pihak atau lebih yang menggunakan bahasa berbeda. Baik translator maupun interpreter, mereka menguasai satu atau lebih dari satu bahasa asing, seperti interpreter bahasa Italia atau Jepang.

Jadi, interpreter Jepang adalah seseorang yang bertugas menerjemahkan pembicaraan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia (atau bahasa Inggris) dan sebaliknya secara langsung.

Proses penerjemahan bisa berlangsung tatap muka atau virtual, ini tergantung kebutuhan perusahaan. Tugas interpreter tidak hanya menerjemahkan kata demi kata, melainkan harus menyampaikan esensi, nada, konteks budaya, serta maksud tersirat dari pembicara secara akurat.

Dalam dunia profesional, metode interpretasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

1. Consecutive interpreting

Pembicara akan menjeda kalimatnya setiap beberapa saat untuk memberikan waktu bagi interpreter menyampaikan terjemahannya. Metode ini biasa digunakan dalam rapat bisnis skala kecil, negosiasi kontrak, atau peninjauan pabrik.

2. Simultaneous interpreting

Interpreter menerjemahkan secara langsung secara bersamaan ketika pembicara sedang berbicara tanpa ada jeda. Metode ini membutuhkan keterampilan tingkat lanjut dan peralatan khusus (seperti booth dan headphone), biasanya diterapkan pada seminar internasional, konferensi besar, atau rapat direksi tingkat tinggi.

4 Kualifikasi yang Anda Butuhkan sebagai Interpreter Jepang

Jika Anda memilih profesi sebagai interpreter, ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan kepercayaan dari perusahaan. Modal kelancaran berbicara bahasa Jepang tidaklah cukup. Anda perlu memenuhi empat kualifikasi ini:

1. Sertifikasi bahasa

Sertifikat Japanese-language proficiency test (JLPT) level N2 atau N1 ialah kualifikasi tertulis yang menjadi filter awal bagi perusahaan.

Level N2 menunjukkan Anda mampu memahami bahasa Jepang dalam berbagai situasi sehari-hari dan bisnis. Sementara itu, level N1 membuktikan bahwa Anda memiliki kapasitas untuk memahami bahasa Jepang dalam konteks abstrak, teknis, dan setara dengan penutur asli atau native speaker.

2. Penguasaan kosakata teknis

Perusahaan Jepang akan mempekerjakan seseorang yang menguasai istilah teknis sesuai dengan industri perusahaan. Jangan khawatir jika Anda adalah lulusan baru dan belum banyak istilah yang dikuasai. Atasan Jepang akan menghargai Anda selama bersedia belajar dan mempraktikkan dalam tugas sehari-hari.

Contohnya, jika Anda menangani proyek manufaktur harus familiar dengan istilah permesinan, quality control, metode produksi kaizen, atau 5s. Jika proyeknya berada di bidang hukum atau keuangan, Anda wajib memahami istilah-istilah perpajakan, audit keuangan, dan legalitas kontrak bisnis.

3. Kemampuan mencatat cepat

Dalam metode consecutive interpreting, pembicara sering kali berbicara selama satu hingga tiga menit tanpa henti sebelum memberikan jeda. Di sini, interpreter dituntut memiliki ingatan jangka panjang serta kemampuan mencatat cepat, seperti menulis dengan simbol. Langkah ini sangat penting agar tidak ada poin esensial atau data angka yang terlewat.

4. Pemahaman bahasa dan etika bisnis

Ketika bekerja di korporasi Jepang, interpreter atau translator wajib memahami bahasa dan etika bisnis. Bila Anda dapat mempraktikkan keigo itu akan menjadi nilai plus, tetapi jika belum menguasai keigo pun tak masalah. Setidaknya, Anda dapat berbicara lancar dengan atasan atau rekan kerja Jepang secara formal.

Perhatikan pula dengan etika bisnis di lingkungan kerja perusahaan Jepang, seperti:

  • Membungkuk: Ini adalah bentuk penghormatan kepada atasan, senior, klein, atau vendor
  • Menghormati hierarki: Karyawan menghormati rekan kerja yang lebih dan mereka yang memiliki posisi lebih tinggi
  • Ketepatan waktu: Anda wajib datang ke ruang rapat (tatap muka) atau ruang telekonferensi (daring) lima menit lebih awal, begitu pula dengan ketepatan waktu soal jam kerja dan istirahat
  • Pengambilan keputusan: Keputusan sering dibuat melalui diskusi kelompok, lalu dokumen keputusan diedarkan ke semua pihak sebelum disetujui secara resmi
  • Pertukaran kartu nama: Perhatikan ketika Anda akan bertukar kartu nama dengan pihak lain, yaitu mengulurkan kedua tangan yang memegang ujung kartu dan tulisan kartu dihadapkan kepada penerima agar mereka bisa mengenali nama serta posisi Anda
Baca: Etika Interpreter Bahasa Jepang: Hal yang Boleh Dan Tidak Boleh Dilakukan (membuka tab baru)

Bagaimana Cara Menjadi Freelance Interpreter Jepang dan Peluang Kerjanya?

Setiap orang yang bekerja mempunyai preferensi masing-masing. Ada yang bekerja dari Senin sampai Jumat, memilih bekerja secara hibrida, dan ada pula yang menjalani pekerjaan lepas. Tak ada yang benar atau salah dengan model kerja tersebut, termasuk mereka yang memilih profesi freelance interpreter.

Freelance interpreter adalah seseorang yang memilih bekerja lepas dalam bidang penerjemahan di berbagai proyek. Orang yang memilih profesi ini berasal dari dua kelompok:

  1. Ia telah bertahun-tahun bekerja di perusahaan dan ingin bekerja mandiri sembari menangkap peluang baru
  2. Ia memilih bekerja lepas sejak lulus kuliah karena mempertimbangkan pengaturan kerja yang fleksibel serta kebebasan memilih proyek kerja

Bagaimana cara menjadi freelance interpreter Jepang?

1. Membangun portofolio dan spesialisasi

Untuk mengawali karier sebagai freelance interpreter, Anda harus membangun portofolio sekaligus spesialisasi di bidang tertentu, meskipun tak menutup kemungkinan menangani proyek di luar bidang yang biasa ditangani. Sebagai referensi, Anda dapat melakukan:

  • Dokumentasi proyek yang pernah ditangani berdasarkan jenis industri, durasi proyek, metode interpretasi
  • Buat portofolio, lalu unggah di web pribadi dan media sosial sebagai wadah mempromosikan keterampilan Anda
  • Tentukan spesialisasi, misalnya sebagai interpreter spesialis manufaktur otomotif atau interpreter khusus IT
  • Aktiflah di media sosial untuk membahas topik-topik penerjemahan agar kehadiran digital Anda terlihat oleh calon klien

2. Menetapkan sistem tarif

Biasanya, sistem tarif freelance interpreter dihitung per jam atau per hari. Jangan memasang tarif terlalu rendah, karena Anda bekerja secara profesional.

3. Investasi pada peralatan

Mengingat interpreting bisa dilakukan secara jarak jauh, maka Anda perlu berinvestasi pada peralatan kerja. Misalnya, memperbarui aplikasi telekonferensi, pencahayaan tambahan dan mikrofon berkualitas, serta pencahayaan tambahan dan mikrofon berkualitas.

4 Kiat Mendapatkan Klien dari Perusahaan Jepang yang Berada di Indonesia

Mendapatkan kepercayaan dari klien korporat Jepang membutuhkan pendekatan yang tepat, karena kultur bisnis Jepang sangat mengutamakan aspek rekomendasi dan rekam jejak. Berikut adalah beberapa strategi efektif untuk mendapatkan klien secara konsisten:

1. Optimasi media sosial

Tak sedikit tim event organizer (EO) hingga HR menggunakan media sosial untuk mencari tenaga profesional di bidang penerjemahan. Jadi, Anda harus memastikan:

  • Aktif di media sosial, seperti Instagram dan LinkedIn
  • Buat konten media sosial dengan menggunakan kata kunci
  • Gunakan judul profil yang jelas, seperti, Freelance Japanese Interpreter | JLPT N1 Certified | Specialized in Automotive & IT
  • Tulis deskripsi diri dan pengalaman kerja dalam dua bahasa, yakni Inggris dan Jepang
  • Cantumkan portofolio proyek besar yang pernah Anda tangani tanpa melanggar perjanjian kerahasiaan

2. Bermitra dengan agensi penerjemah

Langkah tercepat bagi freelancer pemula untuk mendapatkan proyek adalah mendaftarkan diri ke agensi penerjemah atau translation and interpreting agencies, baik yang berbasis di Indonesia maupun di Jepang.

Perusahaan Jepang skala besar akan mempercayakan kebutuhan interpreter kepada, agensi karena ada jaminan kualitas. Dengan bermitra dengan agensi, Anda akan mendapatkan proyek secara berkala tanpa harus melakukan pemasaran sendiri serta membangun portofolio awal. Misalnya, menjadi interpreter di konferensi atau pertemuan antara pengusaha Jepang dan Indonesia.

3. Bergabung dengan asosiasi dan komunitas

Di Indonesia, Anda dapat bergabung dengan asosiasi penerjemah atau komunitas alumni sastra Jepang. Mereka kerap membutuhkan lebih dari satu orang tenaga ahli bahasa untuk menangani proyek besar. Ini juga membuka peluang mendapatkan referral proyek jika interpreter lain sedang penuh jadwalnya.

4. Memanfaatkan platform kerja lepas

Daftarkan diri Anda pada platform kerja lepas yang tepercaya dan memiliki jaringan global, termasuk perusahaan Jepang yang membutuhkan freelance interpreter. Isi profil Anda dengan detail, sertakan bukti kelulusan JLPT, dan tawarkan layanan video interpreting jarak jauh.

Peluang kerja di bidang ini tergolong sangat luas dan dinamis. Klien tidak hanya perusahaan Jepang, juga perusahaan swasta atau pemerintah yang memiliki kegiatan dengan pihak Jepang, seperti:

  • Agenda audit tahunan atau pengurusan sertifikasi ISO
  • Seminar peluncuran produk baru, pameran B2B, atau konferensi pers
  • Proses instalasi mesin baru yang mendatangkan teknisi langsung dari Jepang
  • Penandatanganan kerja sama antara perusahaan swasta atau pemerintah dengan korporasi Jepang
Cara menjadi freelance interpreter Jepang dan mendapatkan klien bukan sekadar kemampuan linguistik. Kondisi ini membutuhkan kemampuan lain Anda tentang mengelola kompetensi, profesionalisme, dan jaringan bisnis secara mandiri.

Memang, tantangan di awal karier cukup besar, terutama dalam membangun kepercayaan klien. Jika Anda konsistensi menjaga kualitas interpretasi dan etika bisnis, perusahaan klien akan selalu mencari Anda.

Bagi Anda yang ingin berkarier sebagai Japanese speaker di perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, cek laman KyariGo (membuka tab baru)

Artikel Terkait